MediandaTerkini – Sahabat medianda terkini
Semua orang tentu ingin memiliki pasangan yang tidak durhaka. Namun zaman
sekarang tanpa disadari banyak istri yang durhaka kepda suami. Meskipun tidak
pasti terjadi, ada beberapa faktor yang dapat menyebabkan perilaku durhaka
istri terhadap suami, antara lain adalah :
1. Kedudukan sosial istri yang lebih lebih
tinggi daripada kedudukan suami,
2. Istri yang lebih kaya dari suami, Istri
yang lebih pandai dari suami,
3. Watak istri yang lebih keras dari suami,
4. Istri yang berasal dari lingkungan budaya
yang menempatkan perempuan lebih berkuasa daripada suami,
5. Istri yang tidak mengerti tuntunan agama
yang menempatkan istri dan suami pada ketentuan yang sebenarnya.
Adapun beberapa perilaku durhaka istri pada
suami merupakan sebagai berikut diantaranya adalah:
1. Mengabaikan Wewenang Suami.
Di dalam rumah tangga, istri adalah merupakan
orang yang berada di bawah perintah suami. Istri bertugas melaksanakan
perintah-perintah suami yang berlaku dalam rumah tangganya. Rasulullah menggambarkan
seandainya seorang suami memerintahkan suatu pekerjaan berupa memindahkan bukit
merah ke bukit putih atau sebaliknya, maka tiada pilihan bagi istrinya selain
melaksanakan perintah suaminya.
2. Menentang Perintah Suami.
Di dalam rumah tangga, perintah yang harus
dilaksanakan istri merupakan perintah suami. Begitu juga larangan yang harus
dilaksanakan istri merupakan larangan suaminya. Sabda Rasulullah : ” Tidaklah
seorang perempuan menunaikan hak Tuhannya sehingga dia menunaikan hak suaminya”.
Hadits itu tidak serta merta menempatkan kedudukan suami sederajat dengan
Tuhan, tetapi hanya menerangkan bahwa jika hak suami untuk ditaati istrinya
yang sesuai dengan ketentuan Allah itu dilanggar oleh istrinya, ini berarti
sama dengan istri melanggar perintah Allah SWT.
3. Enggan Memenuhi Kebutuhan Bi*o*log*is Suami.
Perkawinan telah diatur oleh syari’at Islam
untuk memberikan jalan yang halal bagi suami dan istri untuk melakukan hubungan
bio*l-o*g-is atau penyaluran dorongan bio*lo*gis. Dengan cara itulah manusia
dapat melakukan regenerasi keturunan dengan cara yang diridlai oleh Allah SWT.
Karena itu, Islam menegaskan bahwasanya istri yang menolak ajakan suaminya
berarti membuka pintu laknat pada dirinya.
4. Tidak Mau menemani Suami Tidur.
Dari Abu Hurairah ra, Rasulullah Saw.
bersabda : ” … Bila seorang istri semalaman tidur terpisah dari ra*nj*ang
suaminya, maka malaikat melaknatnya sampai Shubuh.” Bila istri ingin tidur
sendiri, sedang suaminya saat itu berada di rumah pada malam harinya, maka dia
harus meminta ijin terlebih dahulu pada suaminya.
5. Memberatkan Beban Belanja Suami.
Allah SWT telah menegaskan bahwa setiap suami
bertanggung jawab memberi nafkah istrinya sesuai dengan kemampuan. Istri yang
menyadari bahwa suaminya kurang mampu tidak dibenarkan menuntut belanja dari
suaminya hanya mempertimbangkan kebutuhannya sendiri sehingga memberatkan
suaminya.
6. Tidak Mau Bersolek Untuk Suaminya.
Para istri diperintahkan untuk berkhidmat
pada suaminya, termasuk mengurus dirinya sendiri dengan berhias dan berdandan
dengan tujuan untuk dapat menyenangkan hati suaminya dan menimbulkan gairah
dalam hidup bersama dirinya.
7. Merusak kehidupan Agama Suami.
Sahabat medianda terkini istri diperintahkan
untuk membantu suaminya dalam menegakkan kehidupan beragama, sedangkan suami
diperintahkan untuk membimbing istri menjalankan agamanya dengan baik. Karena
itu, kalau istri tidak mau membatu suami menjalankan dan menegakkan agama,
apalagi merusak iman dan akhlak agama suami, sudah tentu dia menjerumuskan
suaminya ke dalam neraka.
8. Mengenyampingkan Kepentingan Suami
Dari Aisyah ra, ujarnya : saya bertanya
kepada Rasulullah SAW . : ” Siapakah orang yang mempunyai hak paling besar pada
seorang wanita?” Sabdanya : ” Suaminya”. Saya bertanya : ” Siapakah orang yang
paling besar haknya pada seorang lelaki. ” Jawabnya : “Ibunya”. Jelaslah Hadits
di atas bahwa kepentingan suami harus lebih didahulukan oleh seorang istri
daripada kepentingan ibu kandungnya sendiri.
9. Keluar Rumah Tanpa Izin Suami.
Istri ditetapkan oleh Islam menjadi wakil
suami dalam mengurus rumah tangga. Karena itu apabila dia keluar meninggalkan
rumah, maka dengan sendirinya dia harus lebih dulu mendapatkan izin suaminya.
Bila dia tidak minta izin dan keluar rumah dengan kemauannya sendiri, maka dia
telah melanggar kewajibannya pada suami, sedangkan melanggar kewajiban berarti
durhaka pada suaminya.
10. Melarikan Diri Dari Rumah Suami
Rasulullah saw bersabda : “Dua golongan yang
sholatnya tidak memiliki manfaat bagi dirinya yaitu hamba yang melarikan diri
dari rumah tuannya sampai dia pulang; dan istri yang melarikan diri dari rumah
suaminya sampai dia kembali.”11. Menerima Tamu Laki-laki Yang Tidak Disukai
Suami.
Dalam sebuah Hadits, Rasulullah telah
menegaskan bahwa seorang istri diwajibkan memenuhi hak-hak suaminya.
Diantaranya yaitu : a. Tidak mempersilakan siapapun yang tidak disenangi
suaminya untuk menjamah tempat tidurnya. b. Tidak mengizinkan tamu masuk bila
yang bersangkutan tidak disukai oleh suaminya.
12. Tidak Menolak Jam*ahan Lelaki Lain.
“…. maka wanita-wanita yang shalih itu ialah
yang taat lagi memelihara dikala suaminya tidak ada sebagaimana Allah telah
memeliharanya…” (QS. An-Nisaa’ (4) ayat 34) Rasulullah menjelaskan bahwa
seorang istri yang membiarkan dirinya dijam*ah lelaki lain boleh diceraikan.
Hal itu menunjukan bahwa perbuatan istri itu merupakan durhaka pada suaminya.
13. Tidak Mau merawat Ketika Suami Sakit.
Jika seorang istri menolak merawat suami yang
sakit dengan alasan sibuk kerja atau tidak ada waktu sebab merawat anak, maka
dia telah melakukan tindakan yang tidak benar.
14. Puasa Sunnah Tanpa Izin Saat Suami Di Rumah.
Dari Abu Harairah, bahwa Rasulullah saw.
bersabda: ” Seorang istri tidak halal berpuasa ketika suami ada di rumah tanpa
izinnya.”
15. Menceritakan Seluk Beluk Fisik Wanita Lain Kepada Suami.
Dari Ibnu Mas’ud, ujarnya : Rasulullah saw.
bersabda: “Seorang wanita tidak boleh bergaul dengan wanita lain, lalu
menceritakan kepada suaminya keadaan wanita itu, sehingga suaminya seolah-olah
melihat keadaan wanita itu.”
16. Menolak Kedatangan Suami Berg*il*ir Kepadanya.
Seorang istri yang dimadu, tetap mempunyai
kewajiban untuk mentaati perintahnya, menyenangkan hatinya, berbakti dan selalu
berperilaku baik kepada suaminya ketika dia datang ber*gi*lir.
17. Mentaati Perintah Orang Lain Di Rumah Suaminya.
Diriwayatkan dalam sebuah Hadits : Dari
Mu’adz bin Jabal, dari Nabi saw., sabdanya: “Tidak halal seorang istri yang
beriman kepada Allah mengizinkan seseorang berada di rumahnya, padahal suaminya
tidak merelakannya. Juga ia tidak boleh keluar rumah bila suami tidak mengizinkannya;
tidak boleh mentaati seseorang, (selain suaminya di rumah suaminya); tidak
boleh meninggalkan tempat tidurnya; dan tidak boleh memukulnya….” (HR. Hakim)
Sahabat medianda terkini dalam sebuah rumah
tangga, kekuasaan terletak pada suami, sekalipun di rumah itu ada ibu bapak
suami atau anak kandungnya. Anak-anak tidak punya kekuasaan dalam rumah tangga
ibu bapaknya, apalagi mertua suami. Contoh, misalnya di rumah Anda turut serta
ibu dan ayah mertua Anda. Sebagai istri, Anda tak boleh mengerjakan
perintah-perintah mereka tanpa seizin suami Anda, karena komando tunggal yang
berhak memerintah Anda (sebagai istri) hanyalah suami.
Sebab orang lain tidak punya hak memerintah
Anda, maka jika Anda melayani perintahnya tanpa persetujuan suami, berarti
istri tersebut telah berbuat salah dan berdosa. Mengapa mematuhi perintah orang
lain di rumah suami dikategorikan perbuatan dosa? Karena di rumah suami hanya
ada satu orang saja yang boleh istri patuhi perintahnya, yaitu suaminya. Karena
itu, jika suatu saat di rumah Anda tinggal ibu dan ayah Anda, lalu mereka
menyuruh Anda menyetrika baju mereka dan saat itu suami Anda ada di rumah, maka
sebagai seorang istri wajib minta izin kepada suaminya suami untuk
mengerjakan-nya. Jika suami Anda tidak mengizinkan, maka Anda tidak boleh mengerjakan
perintah ibu ayah Anda itu. Lalu bagaimana kalau pada saat yang sama anak minta
dibuatkan roti dan suami minta dicucikan bajunya? Seorang istri wajib memenuhi
permintaan suami nya, sedang permintaan anak tidak wajib untuk dipenuhi.
Apabila Anda ternyata mendahulukan
kepentingan anak, yaitu membuatkan susu dan menomerduakan suami, maka Anda
telah durhaka kepada suami Anda. Karena itu, jika Anda hendak mendahulukan
membuatkan susu anak, mintalah persetujuan suami Anda dulu.
Kalau ia tidak mengizinkan, maka Anda
berkewajiban mendahulukan kepentingan suami daripada kepentingan anak. Mungkin
sekali banyak orang akan berkata:”Bukankah melayani suami itu sudah rutin,
apakah suami masih harus selalu dan terus diutamakan segalanya daripada orang
lain, sekalipun itu anak dan orang tuanya sendiri?” Jawabannya: “Ya.” Sebagai
istri, kiblat ketaatan Anda hanya kepada suami tercinta, yaitu orang yang
pertama dan utama Anda khidmati setelah Anda tunaikan kewajiban-kewajiban Anda
kepada Allah. Jadi, bagi seorang istri yang shalihah, suami adalah pimpinan
pertamanya, tempat baktinya yang utama dan kiblat kepatuhan hidupnya sampai
saat yang ditetapkan oleh Allah. Karenanya, perlu sekali setiap istri menyadari
bahwa di bawah atap rumah suaminya, hanya ada satu komandan, yaitu suaminya.
Orang lain, siapa pun dia, tidak boleh dipatuhi perintahnya bila suaminya tidak
mengizinkannya.
18. Menyuruh Suami Menceraikan Madunya
Rasulullah saw melarang seorang isteri yang
menyuruh suaminya menceraikan madunya. Beliau saw bersabda: “Seorang isteri
tidak boleh meminta (suami) menceraikan saudaranya (madunya) agar ia dapat
menguasai piringnya, tetapi hendaklah ia membiarkan tetap dalam pernikahannya
karena sesungguhnya bagi dirinya bagian yang telah ditetapkan” (HR Ibn Hibban
dari Abu Hurairah ra)
19. Minta Cerai Tanpa Alasan Yang Sah.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam
melarang seorang istri melakukan gugat cerai tanpa alasan yang dibenarkan.
Artinya, jika hal itu dilakukan karena alasan yang benar, syariat tidak
melarangnya, bahkan dalam kondisi tertentu, seorang wanita wajib berpisah dari
suaminya.
Apa saja yang membolehkan para istri untuk
melakukan gugat cerai? Imam Ibnu Qudamah telah menyebutkan kaidah dalam hal
ini. Beliau mengatakan, “Kesimpulan masalah ini, bahwa seorang wanita, jika
membenci suaminya karena akhlaknya atau karena fisiknya atau karena agamanya,
atau karena usianya yang sudah tua, atau karena dia lemah, atau alasan yang
semisalnya, sementara dia khawatir tidak bisa menunaikan hak Allah dalam
mentaati sang suami, maka boleh baginya untuk meminta khulu’ (gugat cerai)
kepada suaminya dengan memberikan biaya/ganti untuk melepaskan dirinya.”
(al-Mughni, 7:323).
20. Mengambil Harta Suami Tanpa Izinnya.
Dalam sebuah Riwayat disebutkan bahwa Hindun
binti Utbah ra, isteri Abu Sofyan bertanya, “Wahai Rasulullah, Abu Sofyan orang
yang bakhil. Dia tidak memberikan nafkah yang cukup untuk diriku dan anakku
kecuali yang kuambil dari hartanya tanpa sepengetahuannya. Apakah tindakanku
itu tergolong dosa?” Nabi saw menjawab, “Ambillah dari hartanya sekadar yang
mencukupi nafkah untukmu dan untuk anakmu dengan cara baik.” Hadits di atas
menjadi dalil bolehnya mengambil harta suami tanpa ijinnya saat suami tidak
memberikan nafkah wajib untuk isteri dan anak. Namun di luar nafkah wajib itu
maka tidak diperkenankan untuk mengambil tanpa ijinnya.
Karena itu tidak dibenarkan mengambil uang
suami tanpa ijinnya jika bukan untuk kebutuhan primer dan bukan untuk kebutuhan
orang-orang yang menjadi tanggungan suami.
Sahabat medianda terkini terkait kasus Anda
yang ingin membantu orang tua untuk biaya ujian adik Anda bagaimana jalan
keluarnya? Kalau uang belanja yang diberikan suami kepada Anda diserahkan
seluruh penggunaannya kepada Anda, artinya boleh untuk apa saja, maka tidak
dilarang Anda memberikan sisa belanja itu kepada ayah Anda.
Namun bila tidak, Anda bisa meminta uang
kepada suami untuk kebutuhan Anda tanpa perlu menjelaskan secara rinci apa
jenis kebutuhan yang dimaksud. Ketika suami sudah memberi, maka menjadi hak
Anda memergunakan uang itu untuk apa saja selama di jalan yang dibenarkan.
Namun kalau bisa hendaknya suami diberi
pemahaman dan motivasi agar mempunyai keinginan untuk berbagi dan bersedekah
tanpa wajib dipaksa disertai doa kepada Allah Swt.
Sahabat medianda terkini semoga artikel ini
bermanfaat dan menjadi pengingat kita semuanya...aamiin