MediandaTerkini - Telah menjadi tradisi menukar uang baru
dibulan Ramadhan, pecahan 100ribu dengan 10ribu atau 5ribu, dan kebanyakan
dengan imbalan. Maka ini menurut syariat bisa disebut riba’. Dan Allah
mengingatkan kepada orang yang beriman, agar setiap kali terjadi benturan
antara aturan syariat dengan tradisi, mereka harus mengedepankan aturan
syariat.
Allah berfirman,
فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤْمِنُونَ حَتَّى يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لَا يَجِدُوا فِي أَنْفُسِهِمْ حَرَجًا مِمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا
“Demi Tuhanmu, mereka (pada
hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara
yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka
sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan
sepenuhnya.” (QS. an-Nisa: 65).
Dalam ilmu hukum, kita diajarkan, jika hukum yang lebih
rendah bertentangan dengan hukum yang lebih tinggi, maka hukum yang lebih
tinggi harus dikedepankan.
Hukum syariat datang dari Allah, sementara hukum tradisi buatan
manusia. Secara usia, di tempat kita, hukum syariat lebih tua, dia ditetapkan
14 abad silam. Sementara tradisi, umumnya datang jauh setelah itu.
Secara hierarki, hukum syariat jauh lebih tinggi. Karena
Allah yang menetapkan.
Karena itulah, tradisi yang melanggar syariat, tidak boleh
dipertahankan. Sekalipun itu tradisi pribumi.
Tukar-menukar Uang
Dikutip dari konsultasisyariah, bahwa dalam kajian ekonomi
islam, kita diperkenalkan dengan istilah barang ribawi (ashnaf ribawiyah). Dan barang ribawi itu ada 6: emas, perak,
gandum halus, gandum kasar, kurma, dan garam.
Keenam benda ribawi ini disebutkan dalam hadis dari Ubadah
bin Shamit radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda,
الذَّهَبُ بِالذَّهَبِ وَالْفِضَّةُ بِالْفِضَّةِ وَالْبُرُّ بِالْبُرِّ وَالشَّعِيرُ بِالشَّعِيرِ وَالتَّمْرُ بِالتَّمْرِ وَالْمِلْحُ بِالْمِلْحِ مِثْلاً بِمِثْلٍ سَوَاءً بِسَوَاءٍ يَدًا بِيَدٍ فَإِذَا اخْتَلَفَتْ هَذِهِ الأَصْنَافُ فَبِيعُوا كَيْفَ شِئْتُمْ إِذَا كَانَ يَدًا بِيَدٍ
“Jika emas dibarter dengan emas,
perak ditukar dengan perak, gandum bur (gandum halus) ditukar dengan gandum
bur, gandum syair (kasar) ditukar dengan gandum syair, korma ditukar dengan
korma, garam dibarter dengan garam, maka takarannya harus sama dan tunai. Jika
benda yang dibarterkan berbeda maka takarannya boleh sesuka hati kalian asalkan
tunai” (HR. Muslim 4147).
Dalam riwayat lain, Dari Abu Said al-Khudri radhiyallahu
‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
الذَّهَبُ بِالذَّهَبِ وَالْفِضَّةُ بِالْفِضَّةِ وَالْبُرُّ بِالْبُرِّ وَالشَّعِيرُ بِالشَّعِيرِ وَالتَّمْرُ بِالتَّمْرِ وَالْمِلْحُ بِالْمِلْحِ مِثْلاً بِمِثْلٍ يَدًا بِيَدٍ فَمَنْ زَادَ أَوِ اسْتَزَادَ فَقَدْ أَرْبَى الآخِذُ وَالْمُعْطِى فِيهِ سَوَاءٌ
“Jika emas ditukar dengan emas,
perak ditukar dengan perak, gandum ditukar dengan gandum, sya’ir (gandum kasar)
ditukar dengan sya’ir, kurma ditukar dengan kurma, dan garam ditukar dengan
garam, takaran atau timbangan harus sama dan dibayar tunai. Siapa menambah atau
meminta tambahan, maka ia telah melakukan transaksi riba. Baik yang mengambil
maupun yang memberinya sama-sama berada dalam dosa.” (HR. Ahmad 11466 &
Muslim 4148)
Juga disebutkan dalam riwayat dari Ma’mar bi Abdillah
radhiyallahu ‘anhu, beliau mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda,
«الطَّعَامُ بِالطَّعَامِ مِثْلاً بِمِثْلٍ ». قَالَ وَكَانَ طَعَامُنَا يَوْمَئِذٍ الشَّعِيرَ.
“Jika makanan dibarter dengan
makanan maka takarannya harus sama”. Ma’mar mengatakan,
“Makanan pokok kami di masa itu
adalah gandum syair” (HR. Muslim 4164).
Berdasarkan hadis di atas,
Dari keenam benda ribawi di atas, ulama sepakat, barang
ribawi dibagi 2 kelompok:
1.
Kelompok Pertama
Emas dan Perak. Diqiyaskan dengan kelomok pertama adalah
mata uang dan semua alat tukar. Seperti uang kartal di zaman kita.
2.
Kelompok Kedua
Bur, Sya’ir, Kurma, & Garam. Diqiyaskan dengan kelompok
kedua adalah semua bahan makanan yang bisa disimpan (al-qut al-muddakhar).
Seperti beras, jagung, atau thiwul.
Aturan Baku yang Berlaku
Dari hadis di atas, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam
memberikan ketentuan
Pertama
Jika tukar menukar itu dilakukan untuk barang yang sejenis,
Ada 2 syarat yang harus dipenuhi, wajib sama dan tunai.
Misalnya: emas dengan emas, perak dengan perak, rupiah dengan rupiah, atau
kurma jenis A dengan kurma jenis B, dst.
dalam hadis di atas, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menegaskan,
harus
مِثْلاً بِمِثْلٍ سَوَاءً بِسَوَاءٍ يَدًا بِيَدٍ
takarannya harus sama, ukurannya sama dan dari tangan ke
tangan (tunai).
Dan jika dalam transaksi itu ada kelebihan, statusnya riba.
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menegaskan,
فَمَنْ زَادَ أَوِ اسْتَزَادَ فَقَدْ أَرْبَى الآخِذُ وَالْمُعْطِى فِيهِ سَوَاءٌ
“Siapa menambah atau meminta
tambahan, maka ia telah melakukan transaksi riba. Baik yang mengambil maupun
yang memberinya sama-sama berada dalam dosa.”
Kedua
Jika barter dilakukan antar barang yang berbeda, namun masih
satu kelompok, syaratnya satu: wajib tunai. Misal: Emas dengan perak. Boleh
beda berat, tapi wajib tunai. Termasuk rupiah dengan dolar. Sama-sama mata
uang, tapi beda nilainya. Boleh dilakukan tapi harus tunai.
Dalam hadis di atas, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam
menegaskan,
فَإِذَا اخْتَلَفَتْ هَذِهِ الأَصْنَافُ فَبِيعُوا كَيْفَ شِئْتُمْ إِذَا كَانَ يَدًا بِيَدٍ
“Jika benda yang dibarterkan
berbeda maka takarannya boleh sesuka hati kalian asalkan tunai”
Terdapat kaidah,
إذا بيع ربوي بجنسه وجب التماثل والتقابض، وبغير جنسه وجب التقابض فقط
Apabila barang ribawi ditukar dengan yang sejenis, wajib
sama dan tunai. Dan jika ditukar dengan yang tidak sejenis, wajib tunai.
Ketiga
Jika barter dilakukan untuk benda yang beda kelompok. Tidak
ada aturan khusus untuk ini. Sehingga boleh tidak sama dan boleh tidak tunai.
Misalnya, jual beli beras dengan dibayar uang atau jual beli garam dibayar
dengan uang. Semua boleh terhutang selama saling ridha.
Tukar Menukar Uang Receh
Tukar menukar uang receh yang menjadi tradisi di masyarakat
kita, dan di situ ada kelebihan, termasuk riba. Rp 100rb ditukar dengan pecahan
Rp 5rb, dengan selisih 10rb atau ada tambahannya. Ini termasuk transaksi riba.
Karena berarti tidak sama, meskipun dilakukan secara tunai.
Karena rupiah yang ditukar dengan rupiah, tergolong tukar
menukar yang sejenis, syaratnya 2: sama nilai dan tunai. Jika ada tambahan,
hukumnya riba.
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menegaskan,
فَمَنْ زَادَ أَوِ اسْتَزَادَ فَقَدْ أَرْبَى الآخِذُ وَالْمُعْطِى فِيهِ سَوَاءٌ
“Siapa menambah atau meminta
tambahan, maka ia telah melakukan transaksi riba. Baik yang mengambil maupun
yang memberinya sama-sama berada dalam dosa.”
Riba tetap Riba, sekalipun Saling Ridha
Bagaimana jika itu dilakukan saling ridha? Bukankah jika
saling ridha menjadi diperbolehkan. Karena yang dilarang jika ada yang terpaksa
dan tidak saling ridha.
Dalam transaksi haram, sekalipun pelakunya saling ridha dan
ikhlas, tidak mengubah hukum. Karena transaksi ini diharamkan bukan semata
terkait hak orang lain. Tapi dia diharamkan karena melanggar aturan syariat.
Orang yang melakukan transaksi riba, sekalipun saling ridha,
tetap dilarang dan nilainya dosa besar.
Transaksi jual beli khamr atau narkoba, hukumnya haram,
sekalipun pelaku transaksi saling ridha.
Bagaimana dengan firman Allah,
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لَا تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ إِلَّا أَنْ تَكُونَ تِجَارَةً عَنْ تَرَاضٍ مِنْكُمْ
“Hai orang-orang yang beriman,
janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali
dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan saling ridha di antara kalian.”
(QS. an-Nisa: 29)
Jawab:
Ayat ini kita yakini benar. aturannya juga benar. Namun
saling ridha yang menjadi syarat halal transaksi yang disebutkan dalam ayat
ini, berlaku hanya untuk transaksi yang haram. Seperti jual beli barang dan
jasa. Sementara trasaksi haram, seperti riba, tidak berlaku ketentuan saling
ridha. Karena semata saling ridha, tidak mengubah hukum.
Bila disebut Sebagai Upah Penukaran Uang
Ada yang beralasan, kelebihan itu sebagai upah karena dia telah
menukarkan uang di bank. Dia harus ngantri, harus bawa modal, dst. jadi layak
dapat upah.
Jelas ini alasan yang tidak benar. Karena yang terjadi bukan
mempekerjakan orang untuk nukar uang di bank, tapi yang terjadi adalah
transaksi uang dengan uang. Dan bukan upah penukaran uang. Upah itu ukurannya
volume kerja, bukan nominal uang yang ditukar.
Misalnya, Pak Bos meminta Paijo menukarkan sejumlah uang ke
bank. Karena tugas ini, Paijo diupah Rp 50 rb. Kita bisa memastikan, baik Pak
Bos menyerahkan uang 1 juta untuk ditukar atau 2 juta, atau 3 juta, upah yang
diserahkan ke Paijo tetap 50 rb. Karena upah berdasarkan volume kerja Paijo,
menukarkan uang ini ke bank dalam sekali waktu.
Sementara kasus tukar menukar ini niainya flat, setiap
100rb, harus ada kelebihan 10rb atau 5rb. Ini transaksi riba, dan bukan upah.
Sayangi Pahala Puasa Anda
Riba termasuk salah satu dosa besar. Bahkan salah satu dosa
yang diancam dengan perang oleh Allah.
Allah berfiman,
فَإِنْ لَمْ تَفْعَلُوا فَأْذَنُوا بِحَرْبٍ مِنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ
Jika kalian tidak meninggalkan riba, maka umumkan untuk
berperang dengan Allah dan Rasul-Nya (al-Baqarah: 279)
Ibnu Abbas menjelaskan ayat ini,
يُقَالُ يَومَ القِيَامَةِ لِآكلِ الرِّبَا: خُذْ سِلَاحَكَ لِلحَرْبِ
Besok di hari kiamat para pemakan riba akan dipanggil,
“Ambil senjatamu, untuk perang!” (Tafsir Ibnu Katsir, 1/716)
Dalam hadis, dosa riba disetarakan seperti berzina dengan
ibunya
Dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda,
الرِّبَا ثَلَاثَةٌ وَسَبعُونَ بَابًا أَيسَرُهَا مِثْلُ أَنْ يَنْكِحَ الرَّجُلُ أُمَّه
Riba itu ada 73 pintu. Pintu riba yang paling ringan,
seperti seorang lelaki yang berzina dengan ibunya. (HR. Hakim 2259 dan
dishahihkan ad-Dzahabi).
Karena itulah, para salaf menyebut dosa riba lebih parah
dari pada zina,
Ada pernyataan Ka’ab al-Ahbar,
دِرْهَمُ رِبًا يَأْكُلُهُ الرَّجُلُ وَهُوَ يَعْلَمُ أَشَدُّ مِنْ سِتَّةٍ وَثَلاَثِينَ زَنْيَةً
Satu dirham riba yang dimakan seseorang, sementara dia tahu,
lebih buruk dari pada 36 kali berzina. (HR. Ahmad 21957, dan ad-Daruquthni
2880)
Sementara dosa dan maksiat adalah sumber terbesar kegagalan
puasa manusia. Dosa merupakan sebab pahala yang kita miliki berguguran. Ketika
ramadhan kita penuh dengan dosa, puasa kita menjadi sangat tidak bermutu.
Bahkan sampai Allah tidak butuh dengan ibadah puasa yang kita kerjakan.
Semacam inilah yang pernah diingatkan Rasulullah Shallallahu
‘alaihi wa sallam dalam hadis shahih riwayat Bukhari dan yang lainnya, dari
sahabat Abu Hurairah radliallahu ‘anhu, bahwa beliau shallallahu ‘alaihi wa
sallam bersabda,
مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِى أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ
“Siapa yang tidak meninggalkan
ucapan dusta, dan semua perbuatan dosa, maka Allah tidak butuh dengan amalnya
(berupa) meninggalkan makanan dan minumannya (puasanya).” (HR. Bukhari 1903)
Ketika ada orang yang berzina di malam ramadhan, apa yang
bisa dibayangkan dengan nasib puasanya?
Bisa jadi hilang semua pahalanya.
Apa yang bisa anda bayangkan, ketika orang melakukan
transaksi riba, yang dosanya lebih berat dari pada zina, dilakukan
terang-terangan di siang bolong ramadhan? Astagfirullah. Semoga kita terhindar
dari perbuatan yang di larang oleh Allah,
Sumber : wajibbaca.com